Beranda

Kamis, 18 Oktober 2012

Pemerintah Harus Bijak Mengelola Utang

Selamat pagi, selamat berkarya.  Artikel ini merupakan editorial yang saya tulis untuk www.hariandetik.com edisi Jumat 19 Oktober 2012. 

 

Pemerintah Harus Bijak Mengelola Utang




Total utang pemerintah Indonesia sampai September kemarin tercatat Rp 1.975,62 triliun, atau bertambah Rp 166,67 triliun dari tahun 2011 lalu. Jumlah tersebut juga melampaui dari yang ditargetkan pemerintah hingga akhir 2012 yakni sebesar Rp 1.937 triliun. Hingga bulan ke sembilan tahun ini tercatat rasio utang terhadap pertumbuhan domestik bruto mencapai 27,3 persen. Sekali lagi ini juga melewati angka yang dipatok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni rasio utang harus ditekan maksimal 22 persen.


Memang angka rasio utang terhadap PDB masih di bawah 30 persen. Namun melihat data bulan September, Jumlah utang yang terus bertambah dan rasio terhadap PDB yang meningkat jelas ini suatu peringatan. Pemerintah harus hati-hati dalam mengelola utang. Apalagi negeri ini selalu menghadapi persoalan rendahnya penyerapan anggaran. Selalu terjadi masalah klasik di negeri ini, yakni penyerapan anggaran terjadi di akhir tahun.

Rabu, 17 Oktober 2012

Shahnaz: Mukjizat Saya Punya Anak

Alhamdulilah nemu artikel ini. Cerita sehari bersama Shahnaz Haque, yang saya tulis tahun 2008 lalu.  Silahkan menikmati.  Silahkan menikmati.
Foto by Abnonjakarta



Shahnaz: Mukjizat Saya Punya Anak




Memulai karier di dunia hiburan tanpa sengaja, Shahnaz Natasya Haque, 36 tahun, kini lebih banyak dikenal sebagai pembawa acara. Putri Indonesia Favorit 1995 ini membawakan beberapa acara di televisi swasta, radio, dan acara-acara langsung di luar media elektronik meski pernah membintangi beberapa judul sinetron. Pendeknya, Shahnaz punya lumayan banyak pengalaman di jagat hiburan.

Meski begitu, ia tak lantas melupakan studi. Adik Marissa dan Soraya Haque ini lulus dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia. "Itu pesan khusus dari orang tua agar tidak mengabaikan pendidikan," katanya.

Di antara macam-macam peran di dunia hiburan itu, mana yang paling menyenangkannya? Ternyata, bukan yang paling banyak menyumbang rupiah ke koceknya. Shahnaz mengaku menyukai membawakan acara di radio meski bayarannya lebih sedikit ketimbang dari acara televisi.

Komunikasi dua arah dengan pendengar membuat Shahnaz kesengsem. Artinya, Shahnaz tak terlalu mementingkan uang dalam pekerjaan. Bahkan, "Saya rela bekerja tidak dibayar asal menyangkut soal kemanusiaan." Tempo mengikuti kegiatannya Jumat dua pekan lalu.

Pukul 09.45
Studio Radio Delta FM
Ratu Plaza, Jalan Sudirman
Jakarta Selatan




Menggendong putri bungsunya, Mieke Namira Haque Ramadhan, 2 tahun, Shahnaz tiba di studio Radio Delta FM. Drummer Gilang Ramadhan, suami Shahnaz, hanya mengantar hingga di depan lobi Ratu Plaza.

Tak Ada Mantan Anak dan Mantan Orang Tua

Saya juga menemukan sebuah artikel soal keluarga yang ditulis oleh Reza Indragiri Amriel.  Artikel ini saya kutip dari Tempo Interaktif, tanpa saya ubah redaksionalnya.

 

Tak Ada Mantan Anak dan Mantan Orang Tua

Kamis, 30 Juni 2011 | 11:07 WIB

Foto by Femina

TEMPO.CO, Jakarta -Bagi komunitas muslim di Indonesia, perceraian dan hak asuh ditangani oleh pengadilan agama. Hakim pengadilan agama menghadapi kendala membuat putusan yang selaras dengan prinsip kepentingan terbaik anak, khususnya terkait dengan legislasi dan mekanisme yang digunakan dalam menyikapi masalah hak asuh ini.

Umumnya putusan hakim tentang hak asuh memuat dua legislasi: Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA). Filosofi KHI adalah maternal preference, mengatur bahwa anak (korban perceraian) yang belum mumayiz berada di bawah penguasaan ibunya. Mumayiz berbeda dengan akil balig. Akil balig merujuk pada dimensi fisik, yakni kematangan--antara lain--organ seksual yang menjadi pembeda antara usia kanak-kanak dan usia pasca-kanak-kanak.

Membantu Anak Hadapi Perceraian Orangtua



Artikel ini saya posting, setelah melihat komunikasi mbak Shahnaz Haque dengan salah satu followernya di twitter.  Saya teringat, pada kurun waktu 2008 - 2010 saat masih di Koran Tempo pernah ditugasi mengelola rubrik Keluarga. Salah satu artikel yang pernah saya tulis adalah soal menyiapkan anak menghadapi perceraian orang tua. Saya lupa edisi kapan? Dan saya gagal mencari file maupun arsipnya. termasuk melalui Google.

Hanya saya menemukan artikel ini; (semoga bermanfaat)

Membantu Anak Hadapi Perceraian Orangtua

Foto ilustrasi by Femina


Masalah keluarga tentu ada saja berbagai permasalahan yang timbul, bahkan konflik perceraian pun bisa terjadi jika pasangan satu sama lain sudah tidak ada lagi saling pengertian dan komunikasi yang baik. Setiap pasangan suami istri pasti tidak pernah menginginkan adanya perceraian dalam pernikahan mereka. 

Namun bila memang hubungan pernikahan Anda tidak dapat diselamatkan lagi sehingga perceraian merupakan sesuatu yang tak terhindarkan, Anda harus baik-baik menyampaikan hal tersebut pada anak Anda karena perceraian merupakan sebuah peristiwa emosional yang dapat mengubah hidup seluruh anggota keluarga Anda, termasuk anak-anak.

Tips-tips berikut dapat Anda praktekkan untuk membicarakan masalah masalah keluarga terutama konflik perceraian tersebut pada anak agar tidak stres, serta terhindar dari masalah kejiwaan. Bila memang Anda dan pasangan telah memutuskan bahwa tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh.

Selasa, 16 Oktober 2012

Resensi Buku Maryam: Yang Terusir di Negeri Sendiri

Resensi ini saya tulis untuk www.edisi.hariandetik.com edisi Sabtu 12 Oktober 2012

Silakan klik link di sini : Yang Terusir di Negeri Sendiri
Bagi yang kesulitan membuka link silakan baca artikel di bawah ini.




 Yang Terusir di Negeri Sendiri



Judul Buku: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Februari 2012
Tebal: 280 halaman 

 

Tanpa kalimat hiperbolis, dengan narasi yang sederhana.


Miris. Entah seperti apa perasaan Empu Tantular jika saat ini masih hidup. Pengarang Kakawin Sutasoma itu tentu tak menduga salah satu ajarannya menjadi moto negeri ini: Bhinneka Tunggal Ika. Terpecah-belahlah itu, tapi satu jugalah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Begitulah cita-cita sang pujangga.
Namun apa yang terjadi ratusan tahun kemudian. Ajaran sang empu hanyalah dijadikan moto. Dalam prakteknya, negeri ini masih jauh dari kata toleransi. Belum sepenuhnya masyarakat menyadari adanya perbedaan antara satu dan yang lainnya.

Selasa, 02 Oktober 2012

Kesaksian teman masa kecil Letkol Untung



Pertama kali terlibat dalam edisi khusus, dengan topik yang berat. menguak kedekatan Soeharto dengan Untung. Bersama kawan Oktamandjaya, kami masuk tim Birochusus yang digawangi pak Yosep dan Pak SJS.
Lebaran ke dua, saya dan kawan Okta Merapat ke Mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan. Selamat Menikmati…..


KISAH PERWIRA KESAYANGAN SOEHARTO

Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,” kata Untung kepada Soebandrio.

Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.
Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu “misteri” tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto. Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan “Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.
***
Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.
“Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,” ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya. Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal. “Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,” kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. “Saya yang mengantarkan Untung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari.”
Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. “Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),” kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Senin, 01 Oktober 2012

Menunggu Sikap Kesatria Irjen Djoko


editorial ini, selengkapnya bisa dibaca di www.edisi.hariandetik.com terimakasih..


Sebuah ironi kembali terjadi di negeri ini. Inspektur Jenderal Djoko Susilo menolak panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi. Padahal KPK memerlukan keterangan mantan Gubernur Akademi Kepolisian itu sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan simulator untuk pembuatan surat izin mengemudi. Publik dibuat tercengang oleh alasan penolakan sang jenderal, yakni menunggu fatwa dari Mahkamah Agung soal lembaga yang berhak menangani kasus tersebut: KPK atau Kepolisian RI.

Djoko dan tim penasihat hukumnya menilai saat ini terjadi dualisme penanganan kasus simulator SIM. Alibi yang seolah-olah dibuat hanya untuk mengulur-ulur waktu. Pertama, KPK dan Polri telah sepakat kasus ini akan ditangani bersama. Penanganan perwira tinggi akan dipegang KPK, sedangkan perwira menengah ditangani penyidik Badan Reserse Kriminal Polri. Proses penyidikan di kedua lembaga penegak hukum itu telah berjalan dan mereka sepakat akan bekerja sama.