Beranda

Selasa, 21 Juni 2016

Negeri Para Pendebat

"Seperti 'kehidupan' di jalan raya, semua merasa benar. Tak ada yang merasa salah. Pemobil salahkah pemotor, pemotor salahkan pejalan kaki, pejalan kaki salahkan pemobil,".  Kalimat itu diucapkan Mbah Mangun dari balik pagar gapura saat berjalan bersama Simbah dan Pak Dhe, usai mengikuti rapat RW.

Meski berjarak 10 meter dari kamarku, suara khas Mbah Mangun yang agak ngebass karena sering merokok terdengar jelas. Saya kurang paham materi pembicaraan tiga pria generasi 40-an itu. Hanya saat mereka bertiga berjalan menuju teras persis di samping kamarku, terdengar sayup-sayup mereka membahas sejumlah perdebatan yang akhir-akhir ini terjadi.

Senin, 13 Juni 2016

Berat Sekali Tugasmu Pak Ustaz?

Foto ilustrasi. (by: Tempo.co)
 Simbah nyaris tersedak. Teh nasgitel di cangkir kaleng itu tak jadi dia seruput. Pak Dhe yang duduk di depannya langsung mengambil kain untuk mengelap air teh yang sempat muncrat membasahi meja dan lengan kursi.

Rupanya beliau kaget mendengar sayup-sayup suara televisi dari kamar si Mbak yang tengah menyetel siaran infotainment. "Rumah tangga sang ustaz kini diambang perpecahan. Sudah tiga bulan ini pak kiai tak pulang ke rumah. Alasannya dia sibuk ceramah. Akankah rumah tangga dai kondang itu berakhir dengan perceraian,".

Rupanya kalimat itulah yang membuat Simbah nyaris tersedak. Maklum kalimat disampaikan dengan intonasi agak lebay,-kalau menurut bahasa gaul anak sekarang. Simbah kaget, "Benarkah rumah tangga Pak Ustaz itu berantakan?.

Jumat, 03 Juni 2016

Anak Gembala yang Hilang


Foto by gusalit2004


Lantunan gending Kutut Manggung mengalun dari kamar Simbah. Di rumah kami, suaranya gending yang populer setelah dibawakan maestro keroncong Waldjinah itu hampir beradu keras dengan alunan ayat suci dari Masjid.



Petang itu selepas Salat Magrib, Simbah nglaras di teras rumah seperti kebiasaannya waktu dulu di kampung. Bedanya dulu di kampung dalam sehari Simbah bisa dua kali nglaras; yakni selepas makan siang dan menjelang Isya.

Kini meski tinggal di pinggiran Jakarta yang tak jauh beda dengan suasana kampung, Simbah hanya bisa sekali nglaras. Itu pun belum tentu sehari sekali. Banyak waktunya tersita untuk momong buyut atau berdiskusi dengan anak-anaknya.

Kamis, 02 Juni 2016

Benarkah Jokowi Politikus Ulung, Siapa Gurunya?

Luhut meninjau persiapan pernikahan putra sulung Presiden Joko Widodo. Foto: Metrotvnews.com/Pythag Kurniati



Dua belas purnama sudah, Simbah dan Pak Dhe tak bercakap-cakap di teras rumah. Pak Dhe mengurusi dua putrinya yang kuliah di Malaysia. Adapun simbah setelah umrah tahun lalu lanjut 'reuni' dengan kawan seperjuangan di kampung halamannya.

Maka, obrolan Minggu pagi, 29 Mei 2016 kemarin menjadi istimewa bagi dua pria beda generasi itu. Ditemani teh nasgitel dan aneka jajanan pasar mereka diskusi soal kondisi jagat perpolitikan terkini di tanah air.

Pak Dhe dan Simbah tak mau kalah dengan bapak-bapak yang sering membahas isu politik di warung kopi sebelah rumah. "Jokowi ini rupanya seorang politikus ulung, pinter," kata Simbah membuka percakapan sambil jemari tangan kanannya mengusap layar komputer tablet di atas meja.