Beranda

Selasa, 16 Oktober 2012

Resensi Buku Maryam: Yang Terusir di Negeri Sendiri

Resensi ini saya tulis untuk www.edisi.hariandetik.com edisi Sabtu 12 Oktober 2012

Silakan klik link di sini : Yang Terusir di Negeri Sendiri
Bagi yang kesulitan membuka link silakan baca artikel di bawah ini.




 Yang Terusir di Negeri Sendiri



Judul Buku: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Februari 2012
Tebal: 280 halaman 

 

Tanpa kalimat hiperbolis, dengan narasi yang sederhana.


Miris. Entah seperti apa perasaan Empu Tantular jika saat ini masih hidup. Pengarang Kakawin Sutasoma itu tentu tak menduga salah satu ajarannya menjadi moto negeri ini: Bhinneka Tunggal Ika. Terpecah-belahlah itu, tapi satu jugalah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Begitulah cita-cita sang pujangga.
Namun apa yang terjadi ratusan tahun kemudian. Ajaran sang empu hanyalah dijadikan moto. Dalam prakteknya, negeri ini masih jauh dari kata toleransi. Belum sepenuhnya masyarakat menyadari adanya perbedaan antara satu dan yang lainnya.

Selasa, 02 Oktober 2012

Kesaksian teman masa kecil Letkol Untung



Pertama kali terlibat dalam edisi khusus, dengan topik yang berat. menguak kedekatan Soeharto dengan Untung. Bersama kawan Oktamandjaya, kami masuk tim Birochusus yang digawangi pak Yosep dan Pak SJS.
Lebaran ke dua, saya dan kawan Okta Merapat ke Mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan. Selamat Menikmati…..


KISAH PERWIRA KESAYANGAN SOEHARTO

Hari Selasa, pengujung tahun 1966. Penjara Militer Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Dua pria berhadapan. Yang satu bertubuh gempal, potongan cepak berusia 39 tahun. Satunya bertubuh kurus, usia 52 tahun. Mereka adalah Letnan Kolonel Untung Samsuri dan Soebandrio, Menteri Luar Negeri kabinet Soekarno. Suara Untung bergetar. “Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih,” kata Untung kepada Soebandrio.

Itulah perkataan Untung sesaat sebelum dijemput petugas seperti ditulis Soebandrio dalam buku Kesaksianku tentang G30S. Dalam bukunya, Soebandrio menceritakan, selama di penjara, Untung yakin dirinya tidak bakal dieksekusi. Untung mengaku G-30-S atas setahu Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.
Keyakinan Untung bahwa ia bakal diselamatkan Soeharto adalah salah satu “misteri” tragedi September-Oktober. Kisah pembunuhan para jenderal pada 1965 adalah peristiwa yang tak habis-habisnya dikupas. Salah satu yang jarang diulas adalah spekulasi kedekatan Untung dengan Soeharto. Memperingati tragedi September kali ini, Koran Tempo bermaksud menurunkan edisi khusus yang menguak kehidupan Letkol Untung. Tak banyak informasi tentang tokoh ini, bahkan dari sejarawan “Data tentang Untung sangat minim, bahkan riwayat hidupnya,” kata sejarawan Asvi Warman Adam.
***
Tempo berhasil menemui saksi hidup yang mengenal Letkol Untung. Salah satu saksi adalah Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Umurnya sudah 83 tahun. Ia adalah sahabat masa kecil Untung di Solo dan bekas anggota Tjakrabirawa. Untung tinggal di Solo sejak umur 10 tahun. Sebelumnya, ia tinggal di Kebumen. Di Solo, ia hidup di rumah pamannya, Samsuri. Samsuri dan istrinya bekerja di pabrik batik Sawo, namun tiap hari membantu kerja di rumah Ibu Wergoe Prajoko, seorang priayi keturunan trah Kasunan, yang tinggal di daerah Keparen, Solo. Wergoe adalah orang tua Suhardi.
“Dia memanggil ibu saya bude dan memanggil saya Gus Hardi,” ujar Suhardi. Suhardi, yang setahun lebih muda dari Untung, memanggil Untung: si Kus. Nama asli Untung adalah Kusman. Suhardi ingat, Untung kecil sering menginap di rumahnya. Tinggi Untung kurang dari 165 sentimeter, tapi badannya gempal. “Potongannya seperti preman. Orang-orang Cina yang membuka praktek-praktek perawatan gigi di daerah saya takut semua kepadanya,” kata Suhardi tertawa. Menurut Suhardi, Untung sejak kecil selalu serius, tak pernah tersenyum. Suhardi ingat, pada 1943, saat berumur 18 tahun, Untung masuk Heiho. “Saya yang mengantarkan Untung ke kantor Heiho di perempatan Nonongan yang ke arah Sriwedari.”
Setelah Jepang kalah, menurut Suhardi, Untung masuk Batalion Sudigdo, yang markasnya berada di Wonogiri. “Batalion ini sangat terkenal di daerah Boyolali. Ini satu-satunya batalion yang ikut PKI (Partai Komunis Indonesia),” kata Suhardi. Menurut Suhardi, batalion ini lalu terlibat gerakan Madiun sehingga dicari-cari oleh Gatot Subroto.

Senin, 01 Oktober 2012

Menunggu Sikap Kesatria Irjen Djoko


editorial ini, selengkapnya bisa dibaca di www.edisi.hariandetik.com terimakasih..


Sebuah ironi kembali terjadi di negeri ini. Inspektur Jenderal Djoko Susilo menolak panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi. Padahal KPK memerlukan keterangan mantan Gubernur Akademi Kepolisian itu sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan simulator untuk pembuatan surat izin mengemudi. Publik dibuat tercengang oleh alasan penolakan sang jenderal, yakni menunggu fatwa dari Mahkamah Agung soal lembaga yang berhak menangani kasus tersebut: KPK atau Kepolisian RI.

Djoko dan tim penasihat hukumnya menilai saat ini terjadi dualisme penanganan kasus simulator SIM. Alibi yang seolah-olah dibuat hanya untuk mengulur-ulur waktu. Pertama, KPK dan Polri telah sepakat kasus ini akan ditangani bersama. Penanganan perwira tinggi akan dipegang KPK, sedangkan perwira menengah ditangani penyidik Badan Reserse Kriminal Polri. Proses penyidikan di kedua lembaga penegak hukum itu telah berjalan dan mereka sepakat akan bekerja sama.

Jumat, 07 September 2012

Penjualan City Car Januari - Juni 2012



Persaingan produk mobil City Car di tanah air dipastikan bakal makin sengit. Produsen kian gencar memproduksi kendaraan jenis ini. Dalam lima tahun terakhir segmen pasar mobil mungil itu tumbuh rata-rata 15 – 20 persen. Kehadiran Honda Brio akan memperketat persaingan di segmen kendaraan perkotaan, setelah lebih dulu ada Kia Picanto, Nissan March, Suzuki Splash, Suzuki Karimun, dan Daihatsu Sirion.

Pengamat otomotif Suhari Sargo kepada Harian Detik menyebut, bila para pemegang merek berlomba menggelontorkan city car di pasar mobil Indonesia, itu cukup beralasan.

Suzuki Estilo Potong Harga, Kenapa?



Pesan BlackBerry itu mampir menjelang lebaran kemarin. Datang dari adik ipar. “Suzuki Estilo lagi diskon besar-besaran, sampai Rp 25 juta,”. Begitu kurang lebih bunyinya. Dari harga Rp 135 jutaan, kini menjadi sekitar Rp 109 juta. Bahkan kalau pandai menawar bisa dapat harga Rp 105 juta. Menarik juga penawaran ini. Tapi pertanyaanya ada apa Suzuki menggelar diskon sebesar itu. Dan kenapa hanya Estilo, apakah varian lain juga ada obral potongan harga?

Alasan Suzuki menggelar diskon terjawab lewat berita detik.com berikut ini. Estilo Diskon Harga


Padahal diperkirakan tahun depan, kendaraan City Car bakal menjadi primadona. Apalagi di Jakarta dengan kondisi jalan raya yang macet, kendaraan jenis Suzuki Estilo menjadi alternatif. Khususnya oleh anak muda. Namun memang, belakangan ini pabrikan mobil gencar memproduksi varian City Car. Honda misalnya, belum lama ini meluncurkan Honda Brio seharga Rp 140 jutaan.

Senin, 03 September 2012

Indonesia Pasar Seksi Mobil Supermewah


artikel ini sumbernya dari Harian Detik. Linknya:

Jakarta - Penjualan mobil supermewah di Indonesia sepanjang tahun ini diperkirakan meningkat 20 - 30 persen dibanding tahun lalu. Meningkatnya jumlah orang kaya di Indonesia menjadikan Indonesia pasar potensial bagi mobil itu. Produsen mobil dari Eropa pun menggenjot penjualan di Tanah Air.

Pasar Indonesia menjadi pasar yang seksi bagi produsen (terutama Eropa) mobil premium,” kata Yudy W. Widodo, Vice President Sales and Marketing PT Eurokars Artha Utama, Agen Pemegang Merek mobil merek Porsche dan Rolls Royce di Indonesia seperti dilansir Harian Detik hari ini. Hal yang sama disampaikan Endy Kusumo Chief Operation Officer PT Artha Auto pemegang merek Lamborghini dan Irvino Edwardly, Chief Executive Officer PT Tiara Cahaya Otomotif, pemegang merek Maserati. “Permintaan mobil super premium Lamborghini Aventador LP 700-4, yang kami pasarkan, melebihi target,” ujar Endy.

16 Orang Indonesia Pesan Ferrari F12 Berlinetta



Jakarta – PT Surya Sejahtera Otomotif akhir pekan lalu meluncurkan mobil sport Italia Ferrari F12 Berlinetta di Indonesia. Ada dua varian yang diperkenalkan, yakni Standard Customized dan Tailor-made Customized. "Kalau untuk harga standar saya belum bisa memberi tahu. Tapi untuk customize itu tergantung dari konsumen itu sendiri. Jadi harganya bisa berbeda-beda," kata President Director PT Surya Sejahtera Otomotif Irmawan Poedjoadi di Jakarta akhir pekan lalu.

Meski diprediksi memiliki harga miliaran rupiah, namun hingga saat ini sudah 16 unit mobil sport itu terpesan di Indonesia. Konsumen terbanyak berasal dari Pulau Jawa, terutama Jakarta, Surabaya, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan. Indonesia memang menjadi negara pertama di Asia Pasifik yang mendapat pengiriman Ferrari F12 Berlinetta. Hal ini bukan tanpa alasan, karena sejak Ferrari resmi mendarat di Indonesia pada 2001, tingkat pertumbuhannya mencapai 10-15 persen pertahun.