Resensi ini saya tulis untuk www.edisi.hariandetik.com edisi Sabtu 12 Oktober 2012
Silakan klik link di sini : Yang Terusir di Negeri Sendiri
Bagi yang kesulitan membuka link silakan baca artikel di bawah ini.
Miris. Entah seperti apa perasaan Empu Tantular jika saat ini masih hidup. Pengarang Kakawin Sutasoma itu tentu tak menduga salah satu ajarannya menjadi moto negeri ini: Bhinneka Tunggal Ika. Terpecah-belahlah itu, tapi satu jugalah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Begitulah cita-cita sang pujangga.
Namun apa yang terjadi ratusan tahun kemudian. Ajaran sang empu hanyalah dijadikan moto. Dalam prakteknya, negeri ini masih jauh dari kata toleransi. Belum sepenuhnya masyarakat menyadari adanya perbedaan antara satu dan yang lainnya.
Silakan klik link di sini : Yang Terusir di Negeri Sendiri
Bagi yang kesulitan membuka link silakan baca artikel di bawah ini.
Yang Terusir di Negeri Sendiri
Judul Buku: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Februari 2012
Tebal: 280 halaman
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Februari 2012
Tebal: 280 halaman
Tanpa kalimat hiperbolis, dengan narasi yang sederhana.
Miris. Entah seperti apa perasaan Empu Tantular jika saat ini masih hidup. Pengarang Kakawin Sutasoma itu tentu tak menduga salah satu ajarannya menjadi moto negeri ini: Bhinneka Tunggal Ika. Terpecah-belahlah itu, tapi satu jugalah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Begitulah cita-cita sang pujangga.
Namun apa yang terjadi ratusan tahun kemudian. Ajaran sang empu hanyalah dijadikan moto. Dalam prakteknya, negeri ini masih jauh dari kata toleransi. Belum sepenuhnya masyarakat menyadari adanya perbedaan antara satu dan yang lainnya.



