Beranda

Selasa, 30 Agustus 2011

Sebuah Kearifan Lokal dari Lebaran


Saya tidak tahu kapan persisnya kebiasaan ini muncul. Khususnya di kampungku, dan mungkin juga di wilayah Jawa lainnya. Tradisi lebaran, saling sungkem dai tetangga satu ke tetangga lainnya. Tak sekedar sungkem. Ada satu ciri khusus dari sungkem ini.
Sekali lagi saya juga tidak tahu apakah daerah lainnya juga begitu.

saya ingat waktu itu kelas 3 SD sekitar kurun waktu 1990-an. Selesai sholat Id di lapangan, lebaran sama Bapak dan Ibu. Setelah itu, ke rumah saudara. Nah disini yang saya maksud ada ciri khusus di daerah kami.

Tak sekedar silaturohmi, bersalaman. Tapi ada satu mantera, atau ucapan yang harus diucapkan dari yang muda ke yang dituakan. Tidak sekedar "minal adin wal faidzin, maaf lahir batin,".

Rapalan ucapan, kurang lebihnya begini. "Matur panjenanganipun Bapak Fulan, hangaturaken sugeng dinten riyadi, dalem pun Erwin nyuwun pangapunten sedoyo lepat, sae ingkang dipun sengajo punopo mboten. Nyuwun kaiklhasanipun Bapak kerso paring gunging pangapunten,”

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih begini:
”Mohon izin kepada Bapak Fulan, mengucapkan selamat hari raya idul fitri, saya Erwin mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya,”

Yang dituakan, lantas menjawab dengan rapalan yang juga berisi do’a.
”Yo Nak, Ingsung wong tuwo yo nduweni luput. Sepiro luputku lan luputmu mugo bisa lebur ing dino riyoyo. Panyuwunku mugo sing tok suwun kabeh diijabahi dening gusti. Lancar anggonmu golek sandang lan pangan. Digampangno anggonmu makaryo, kinasihan marang atasanmu. Digampangno jodohmu,”.

Terjemahannya kurang lebih begini:
”Ya Nak, saya selaku orang tua juga mohon dbukakan pintu maaf. Do’aku semoga apa yang engkau inginkan terkabul. Lancar rejekimu, dimudahkan segala urusanmu, digampangkan jodohmu.

Sebuah silaturohmi di hari lebaran yang sarat makna dan nilai. Saling mendo’akan dengan tulus, ikhlas.

Kira-kira 20 tahun lalu, persis tanggal 1 syawal malam, selepas Isya, saya dan semua remaja di kampung bersama-sama mendatangi rumah warga satu persatu. Salaing merapal ucapan lebaran di atas. Dari selepas isya, acara keliling rumah warga itu bisa selesai lepas tengah malam.

Namun kini budaya itu mulai luntur. Minimal malam ini, tradisi remaja sowan ke rumah warga untuk berlebaran mulai jarang dilakukan. Paling siang harinya saat bertemu di lapangan.

Sebenarnya sayang sekali budaya seperti itu mulai luntur. Do’a yang terkandung dalam ’rapal’ lebaran dengan saling menjabat tangan, yang muda dengan gaya sungkem, bersimpuh dan mencium tangan orang tua, kekuatan do’a sungguh terasa.

Wallahu Alam, apakah tradisi ini masih ada di daerah Anda.
Semoga masih..

Selamat berlebaran

Salam SenenKliwom
--Erwindar--