Beranda

Jumat, 12 Desember 2014

Apa Arti Sukses Menurut Anda?




Materi Khotbah Jumat tadi tentang 'Arti Sukses' rupanya memantik Simbah untuk membahasnya sesampai di rumah. Sambil bersantap siang di teras, Simbah dan Pakdhe berdiskusi soal 'Arti Sukses'.

Setiap orang menurut Simbah memiliki tolak ukur yang berbeda-beda dalam mengartikan kata sukses. Seorang pedagang jamu yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar sarjana misalnya bisa disebut sukses.

“Pedagang jamu itu sukses mengantar anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi,” kata Simbah.

Ada juga seorang pedagang makanan yang merasa sukses setelah berhasil mencapai omset Rp 1 juta per hari, dan memiliki beberapa cabang. Atau seorang pengojek yang bisa mendapatkan penghasilan Rp 100 ribu per hari juga sudah merasa sukses.

“Jadi ukuran sukses bagi setiap orang itu berbeda-beda,” kata Simbah.


Pakdhe sepakat dengan Simbah. Beliau kemudian mengisahkan sebuah kejadian yang pernah diceritakan oleh salah seorang temannya.

Ada sebuah keluarga terpandang yang menurut tetangga mereka dianggap sukses dalam mendidik anak-anaknya. Satu anaknya menjadi menjadi dokter spesialis tenar. Setiap hari antrean pasiennya mengular. Dia juga sering diminta berceramah tentang kesehatan di berbagai forum baik lokal maupun internasional.

Dua anak lainnya pengusaha hebat. Bisnisnya tersebar di mana-mana, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga sampai luar negeri. Hampir setiap hari nama mereka diberitakan di media-media sebagai contoh wirausahawan yang membawa harum nama bangsa.


Para tetangga pun memuji keluarga ini sebagai keluarga yang sukses. Sebagian warga bahkan iri.


Namun ibarat pepatah jawa, 'Urip mung sawang sinawang' (Hidup cuma saling melihat). Orang yang kita anggap suskes, belum tentu merasakan yang sama.


Saat sang ayah meninggal, dua anak tercintanya yang sukses dididik hingga jadi pengusaha sedang berada di luar negeri. Anak yang pertama tak mengangkat telepon dari kampung yang hendak memberitahukan perihal kematian ayahnya.


Anak kedua mengatakan, “Tolong selenggarakan saja pemakaman ayah. Saya tidak mungkin pulang karena ada pertemuan bisnis penting dengan mitra di sini.”


Tetangga-tetangga mereka terkesima mendengar jawaban itu. Mereka merasa anak-anak itu seolah tidak memiliki empati dan keinginan untuk memberikan bakti terakhir kepada ayahnya yang sudah renta.


Padahal sang ayah menjadi tua dan lapuk tulangnya karena mereka. Ayah itu menjadi renta setelah berjuang untuk mereka.


Jenazah sang ayah kini hanya ditungguin satu orang anaknya yang berprofesi sebagai dokter. Ketika jasad bapak itu terbujur di ruang tamu di rumah duka, ia memang masih menunggu. Tapi setelah jenazah selesai dimandikan, menunggu waktu untuk disalatkan, dokter itu mengeluarkan uang Rp 50 juta.


Dia meminta kepada tetangga untuk menyelenggarakan pemakaman sang ayah karena harus terbang ke Bali untuk menjadi pembicara satu-satunya di sebuah seminar. Si dokter mengaku tak bisa menunggu lama-lama sampai ayahnya selesai dimakamkan.


“Ia lalu berangkat ke bandara,” cerita Pakdhe kepada Simbah.


Simbah tak menjawab. Dari dua kelopak matanya mengalir butir-butir air mata membasahi pipi keriputnya dan jatuh di piring bekas makan siang yang belum sempat dibawa ke dapur.


“Lalu apa arti sukses menurutmu,” tanya Simbah lirih.
Suara ayah dan anak itu tak lagi terdengar. Ku akhiri catatanku tentang dialog Simbah dan Pakdhe siang itu dengan satu pertanyaan, “Apa Arti Sukses itu?,”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar