Beranda

Minggu, 17 Juni 2012

Merencanakan Liputan Besar





Bukan bermaksud menggurui jika kemudian kami memposting sebuah artikel tenteng teknik merencanakan liputan panjang. Satu windu terjun ke dunia jurnalistik jelas belum cukup untuk belajar dunia rakit merakit kata. Namun apa salahnya sedikit membagi materi yang pernah kami dapat selama menjadi kuli tinta. Khususnya selama penulis diberi kesempatan mengabdi dan belajar di Tempo.



Salah satu artikel yang ingin saya publikasikan adalah soal 'Merencanakan Liputan Besar'. Materi ini saya sarikan dari kelas rutin yang kami dapat selama di Tempo dan artikel yang ditulis senior kami Pak Putu Setia pada 1996. Selamat menikmati.




Merencanakan Liputan Besar.

Dalam dunia jurnalistik dikenal ada dua jenis liputan besar. Yakni liputan besar yang akan dimuat bersambung, dan yang satu lagi liputan besar yang dimuat pada sekali penerbitan. Pak Putu Setia menjelaskan liputan besar umumnya dilakukan oleh surat kabar harian dan hampir tak pernah dilakukan oleh sebuah majalah atau tabloid berita mingguan. Liputan besar bisa berupa laporan perjalanan, bisa berupa liputan seminar (diskusi, lokakarya dan sejenisnya), bisa pula laporan investigasi. Tapi koran harian bisa pula memuat liputan besar yang sekali muat.



Ada perbedaan dalam perencanaan untuk kedua jenis liputan besar itu. Termasuk juga gaya penulisannya. Angle atau sudut pandang pun bisa berbeda-beda atau banyak dimensi yang bisa ditampilkan. Umumnya, sebuah liputan besar berisi tentang isu yang lagi hangat dibicarakan di masyarakat saat ini. Misalnya isu yang hangat saat ini adalah soal Hambalang, Neneng,



Yang pertama dilakukan saat merencanakan liputan besar adalah newspeg (kaitan dengan suatu peristiwa). Aneh tentu kalau tiba-tiba kita menulis sebuah isu padahal saat itu tidak jadi berita hangat di masyarakat. Nah untuk merencanakan liputan jenis ini yang pertama dilakukan adalah memilih topik. Kemudian menginventaris beberapa angle (sudut pandang) dari topik ini. Menentukan narasumber yang akan diwawancarai, mengumpulkan data pendukung, riset soal topik yang akan diliput, dan terakhir membuat out-line sebagai pedoman bagian-bagian tulisan.



Nah tips ini saya kutip dari tulisan Pak Putu Setia: Contoh, Anda ingin menulis tentang nasib kesenian tradisional yang tergusur oleh wajah metropolitan kota besar. Anda tak bisa menulis sebuat berita apalagi sebuah liputan yang besar kalau tak dibicarakan orang atau tak ada newspeg-nya. Nah, dalam kaitan dengan contoh tadi, newspeg liputan ini adalah digusurkan wayang orang Ngesti Pandowo dari kota Semarang.
Anda inventarisasi permasalahannya. WO Ngesti Pandowo tergo long unik, sudah puluhan tahun menghibur masyarakat kota Semarang dan hampir menjadi ciri khasnya kota Semarang. Mereka digusur karena letak gedung itu strategis untuk bisnis sebuah kota metropolitan dan tentu nilai ekonomisnya besar. Lalu, apa dampaknya terhadap anak-anak wayang. Kemana mereka pergi. Bagaimana nasib kesenian serupa di kota lain. Apa kata para pakar, baik pakar kesenian maupun akar perkotaan. Nah, buatlah out-line. out-line itu misalnya begini:
Tulisan pertama (yang dimuat pada hari pertama) haruslah menukik pada permasalahan besar yang menjadi pokok liputan itu. Yakni, tergusurnya Ngesti Pandowo. Ceritakan kenapa tergusur, siapa memakai lahan itu, berapa dibeli, untuk apa. Tentukan siapa nara sumber: pimpinan Ngesti Pandowo, Walikota, investor, dll. Siapkan data pendukung: luas lahan, kapan Ngesti Pandowo lahir, bagaimana nasib kesenian itu di hari-hari terakhir.
Tulisan kedua, kembali ke masa lalu, saat-saat keemasan Ngesti Pandowo sebagai kesenian tradisi yang memberi ciri sebuah kota. Siapa pendirinya, siapa dedengkotnya, terobosan apa yang pernah dipakai di masa jaya, lalu kenapa berangsur-angsur ditinggalkan penontonnya. Sekarang bagaimana nasib anak wayang itu.
Tulisan ketiga, misalnya, nasib kesenian serupa di kota lain di Indonesia. Misalnya WO Bharata di Jakarta, Miss Tjitjih di Jakarta, Srimulat di Surabaya, dan lain-lain. Kenapa bisa hidup, siapa mensubsidi, apa kiatnya menjaring penonton, kenapa gedungnya tak diincar investor untuk bisnis dan seterusnya.
Tulisan keempat: tidak bisakah sebuah gemerlap metropolitan bersanding dengan seni tradisi? Wawancarai pakar. Adakan riset kepustakaan. Kenapa di luar negeri bisa: Tokyo punya pentas teater rakyat Kabuki, Paris, Belanda, dan kota-kota lian punya seni tradisi yang justru menjadi kebanggaan kotanya.
Untuk sebuah laporan perjalanan, Anda pun harus siap dengan out-line sebelum melakukan perjalanan itu sendiri. Apa yang akan diliput. Laporan perjalanan tak mesti ditulis dengan runtut seperti ketika Anda berjalan. Jika begitu Anda menulis akan membosankan dan sama sekali tidak menarik. Anda harus menulis permasalahannya. Misalnya, Anda ditugaskan ke Filipina menulis feature perjalanan. Rancang dari awal apa yang mau dikerjakan, pilih bagian yang menarik untuk tulisan pertama. Misalnya kehidupan demokrasi di Manila. Bagian kedua tentang Subic setelah ditinggal Amerika. Bagian ketiga kehidupan malamnya. Dan sebagainya, jadi bukan menulis perjalanan Anda dari detik ke detik.Untuk liputan panjang dari sebuah seminar internasional, mungkin lebih mudah menulisnya. Tulis setiap topik permasalahan. Jangan meloncat-loncat. Agar tulisan tidak kering, sisipkan anekdot atau masalah-masalah ringan di sela-sela laporan itu, termasuk kehidupan kota di mana seminar itu berlangsung.



Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar